Total 1.700 Tewas Akibat Banjir di Daerah Asia Tenggara. Bencana banjir dan longsor akibat siklon tropis dan hujan monsun ekstrem melanda Asia Tenggara sejak akhir November 2025, tinggalkan jejak kehancuran yang tak terbayangkan. Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan organisasi internasional seperti PBB per 7 Desember sebut total korban jiwa capai 1.700 orang, campur dari Indonesia, Thailand, Sri Lanka, Malaysia, dan Vietnam. Siklon Senyar dan Ditwah jadi biang kerok utama, picu banjir bandang yang hantam jutaan jiwa—lebih dari 4 juta terdampak, 1,5 juta mengungsi. Di Indonesia saja, 830 kematian; Thailand 263; Sri Lanka 334; sisanya dari negara lain. Ini jadi salah satu bencana terburuk di kawasan ini sejak 2018, dengan kerugian ekonomi capai miliaran dolar. Di tengah hujan yang masih deras, upaya evakuasi lanjut, tapi angka 1.700 tewas ini jadi pengingat betapa rawannya musim hujan di Asia Tenggara tahun ini. BERITA BOLA
Dampak di Indonesia: Total 1.700 Tewas Akibat Banjir di Daerah Asia Tenggara
Indonesia paling parah kena hantaman, dengan 830 jiwa tewas dan 500 hilang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di Agam, Palembayan hancur: 171 korban, 71 hilang, dan 1.378 bangunan rusak. Banjir bandang 27 November seret rumah, jembatan, dan lahan sawah 3.479 hektare—ekonomi petani anjlok Rp 500 miliar. Pengungsi 570 ribu jiwa di 66 posko andalkan dapur umum, tapi stok makanan tipis. Di Aceh Tamiang, RSUD lumpuh tertimbun lumpur 40 cm, 10 pasien tewas saat evakuasi. Prabowo Subianto tinjau langsung Bireuen 7 Desember, janji Rp 500 miliar rekonstruksi dan jembatan bailey selesai 48 jam. Relawan TNI dan PMI gali puing, tapi hujan 300 mm/hari hambat—total terdampak 1,1 juta jiwa.
Dampak di Thailand dan Sri Lanka: Total 1.700 Tewas Akibat Banjir di Daerah Asia Tenggara
Thailand kena siklon Senyar parah di selatan: 263 tewas, 200 di Songkhla saja—daerah dinyatakan zona bencana. Banjir rendam 135 ribu rumah, evakuasi 3,6 juta jiwa di 20 provinsi. Jalan putus, listrik mati, dan lahan pertanian hancur—kerugian Rp 1 triliun. Di Sri Lanka, Siklon Ditwah 28 November tewaskan 334 orang di Kandy dan Nuwara Eliya, picu longsor yang hantam perkebunan teh. Lebih dari 1 juta terdampak, ribuan mengungsi di tenda sementara. Pemerintah salurkan bantuan tunai 9.000 baht per keluarga, tapi cuaca buruk hambat helikopter. Di kedua negara, anak-anak dan lansia paling rentan: trauma banjir dan kekurangan obat tambah korban tidak langsung.
Respons Regional dan Internasional
Pemerintah kawasan gerak cepat: ASEAN deklarasi darurat 2 Desember, koordinasi bantuan antarnegara. Indonesia kirim tim medis ke Thailand, sementara PBB salurkan US$50 juta untuk logistik. Di Malaysia, banjir Desember tewaskan 3 orang di Kelantan, evakuasi 148 ribu jiwa—pemerintah tambah dana Rp 280 juta per korban. Vietnam hadapi siklon Ragasa: 85 tewas, ribuan rumah rusak di utara. Relawan internasional seperti Palang Merah Asia bantu drone evakuasi dan obat trauma. BMKG dan pakar UGM sebut perubahan iklim perkuat siklon—curah hujan naik 40 persen sejak 2020. Prabowo instruksikan Makan Bergizi Gratis untuk pengungsi, sementara Thailand umumkan zona bencana nasional.
Kesimpulan
Total 1.700 tewas akibat banjir di Asia Tenggara jadi angka pilu yang gambarkan kehancuran monsun ekstrem 2025—dari 830 di Indonesia hingga 334 di Sri Lanka, jutaan jiwa terdampak. Dampaknya meluas: rumah hancur, lahan mandul, trauma massal. Tapi respons ASEAN, PBB, dan gotong royong lokal beri harapan: evakuasi lanjut, bantuan mengalir, dan rekonstruksi dimulai. Ini pelajaran besar: lindungi hutan hulu, perkuat drainase, dan siaga iklim. Kawasan ini kuat; semoga hujan reda, dan cerita selanjutnya soal bangkit—bukan duka lagi. Solidaritas regional kunci selamatkan masa depan.