Mahasiswa PPDS Unsri Membully Junior

mahasiswa-ppds-unsri-membully-junior

Mahasiswa PPDS Unsri Membully Junior. Kasus perundungan yang dilakukan sejumlah mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di salah satu fakultas kedokteran universitas negeri di Palembang kembali menjadi sorotan publik setelah video berdurasi 3 menit 12 detik yang menunjukkan aksi bullying terhadap junior beredar luas di media sosial pada 13 Januari 2026; dalam rekaman tersebut, terlihat beberapa dokter residen senior memaksa junior melakukan tugas-tugas tidak wajar, memberikan hinaan verbal berulang, hingga ancaman pembatasan akses ruang praktik jika tidak patuh, kejadian yang diduga terjadi di ruang jaga dan area kerja klinik ini langsung memicu kemarahan netizen serta desakan dari berbagai kalangan agar universitas dan rumah sakit pendidikan memberikan sanksi tegas. BERITA BOLA

Kronologi Kejadian dan Isi Video yang Viral: Mahasiswa PPDS Unsri Membully Junior

Video yang diunggah secara anonim menampilkan situasi di ruang istirahat dokter residen sekitar pukul 02.00 dini hari; seorang dokter junior terlihat berdiri dengan kepala tertunduk sementara tiga senior secara bergantian memberikan perintah dengan nada merendahkan, termasuk meminta junior menyanyi lagu anak-anak sambil jongkok, menggosok lantai dengan tangan kosong, dan mengucapkan kalimat merendahkan diri sendiri berulang kali, salah satu senior bahkan terdengar mengatakan bahwa “ini cara mendidik dokter yang kuat mental”, sementara junior tampak ketakutan dan beberapa kali mencoba menahan tangis, rekaman tersebut diyakini berasal dari ponsel salah satu peserta yang sengaja merekam untuk bukti, setelah tersebar luas, video itu ditonton jutaan kali dalam waktu kurang dari 24 jam dan memicu tagar yang menuntut pertanggungjawaban dari pihak fakultas serta rumah sakit pendidikan.

Respons Universitas dan Rumah Sakit Pendidikan: Mahasiswa PPDS Unsri Membully Junior

Pihak universitas langsung mengeluarkan pernyataan resmi keesokan harinya, menyatakan bahwa kasus tersebut sedang ditangani oleh tim investigasi internal yang melibatkan dekan fakultas, komite etik, dan bagian hukum; rumah sakit pendidikan juga membentuk tim khusus untuk memeriksa laporan serupa dari tahun-tahun sebelumnya, karena beberapa alumni dan residen senior lain mengaku pernah mengalami perlakuan serupa meski tidak pernah dilaporkan secara resmi, dekan fakultas menegaskan bahwa jika terbukti, pelaku akan dikenai sanksi berat mulai dari teguran tertulis, pembekuan status residen, hingga pemutusan hubungan pendidikan, sementara korban junior yang menjadi sasaran bullying telah mendapat pendampingan psikologis dan dijamin tidak akan mengalami pembalasan, universitas juga membuka hotline pengaduan anonim untuk mendorong residen lain yang memiliki pengalaman serupa agar berani bersuara tanpa takut.

Dampak Lebih Luas terhadap Pendidikan Kedokteran Spesialis

Kasus ini bukan yang pertama di Indonesia, namun menjadi salah satu yang paling viral karena bukti visual yang kuat dan keterlibatan dokter residen yang seharusnya menjadi teladan; banyak dokter senior dan akademisi dari berbagai universitas menyatakan keprihatinan bahwa budaya senioritas yang berlebihan masih melekat kuat di beberapa program PPDS, di mana junior sering dianggap sebagai “pelayan” daripada rekan belajar, dampak psikologis bagi korban bisa sangat berat, mulai dari gangguan kecemasan hingga depresi yang memengaruhi kinerja klinis dan kualitas hidup, organisasi profesi kedokteran juga ikut angkat suara dengan menyerukan perlunya reformasi sistem pendidikan spesialis yang lebih manusiawi, termasuk pengawasan ketat terhadap interaksi senior-junior dan mekanisme pelaporan yang aman, kasus ini menjadi momentum bagi banyak fakultas kedokteran untuk melakukan evaluasi internal dan memperkuat kode etik di lingkungan pendidikan spesialis.

Kesimpulan

Kejadian bullying yang dilakukan mahasiswa PPDS terhadap junior di Palembang menjadi pengingat pahit bahwa dunia pendidikan kedokteran spesialis belum sepenuhnya bebas dari praktik yang merendahkan martabat manusia; dengan munculnya bukti video yang tak terbantahkan, harapan besar tertuju pada tindakan tegas dari universitas dan rumah sakit pendidikan agar kasus ini tidak hanya berakhir pada pernyataan resmi, tetapi benar-benar membawa perubahan sistemik, korban yang berani bersuara patut diapresiasi karena telah membuka mata publik terhadap realitas yang selama ini sering disembunyikan, semoga kasus ini menjadi titik balik menuju lingkungan pendidikan spesialis yang lebih sehat, adil, dan manusiawi bagi seluruh dokter residen di Indonesia.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *