Ekspansi PM Jepang Buat Pasar Global Gentar

ekspansi-pm-jepang-buat-pasar-global-gentar

Ekspansi PM Jepang Buat Pasar Global Gentar. Ekspansi ekonomi Jepang di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi mulai 2025 jadi topik hangat di pasar global, tapi bukan kabar gembira semata. Rencana belanja besar-besaran untuk dorong pertumbuhan 1,1 persen—sesuai proyeksi IMF—malah bikin investor gentar. Dengan utang publik capai 250 persen GDP, stimulus fiskal ini risiko picu krisis bond yield yang bisa guncang keuangan dunia. Bank of Japan (BOJ) sudah naikkan suku bunga, tapi yen lemah tambah inflasi impor, bikin pasar khawatir carry trade runtuh. Ekspor mobil ke AS—6 persen total ekspor—rentan tarif Trump, sementara M&A domestik melonjak USD 230 miliar tahun lalu. Takaichi janji reformasi, tapi analis sebut ini “no-win situation”—pertumbuhan atau stabilitas? Pasar global, yang andalkan Jepang sebagai safe haven, kini was-was efek domino. BERITA BOLA

Rencana Stimulus Fiskal Takaichi: Ekspansi PM Jepang Buat Pasar Global Gentar

Sanae Takaichi, PM sejak September 2025, luncurkan paket fiskal November lalu untuk atasi stagnasi pasca-pandemi. Nilainya lebih kecil dari stimulus COVID, tapi fokus defense, anak muda, dan kebijakan industri—naikkan defisit 2025 jadi 3 persen GDP. IMF proyeksi GDP riil 1,1 persen, dorong konsumsi dan investasi korporasi. Upah minimum naik rekor, dukung kenaikan suku bunga BOJ. Tapi utang 250 persen GDP—tertinggi di G7—bikin pasar gelisah. Yield obligasi 10 tahun naik ke 1 persen, tekan biaya pinjam pemerintah. Takaichi sebut ini “ekspansi bertanggung jawab” untuk capai target 2 persen inflasi, tapi kritikus bilang langkah ini mirip Abenomics: janji besar, hasil campur.

Dampak Yen Lemah dan Inflasi Impor: Ekspansi PM Jepang Buat Pasar Global Gentar

Yen anjlok ke level terlemah sejak 1986 bikin impor energi dan makanan mahal, dorong inflasi 2,8 persen 2025. BOJ akui kebijakan tarif AS tekan ekspor, tambah ketidakpastian global. Carry trade—pinjam yen murah untuk investasi aset berisiko—bisa runtuh jika yield naik tiba-tiba, picu gejolak pasar seperti 2024. Analis Deutsche Bank sebut Jepang “titik lemah” ekonomi dunia: jika stimulus gagal, resesi domestik bisa sebar ke Asia. Tapi positifnya, yen lemah dorong ekspor manufaktur, meski tarif AS ancam 10 persen flat. Takaichi instruksikan BOJ pantau ketat, tapi pasar khawatir rate hike terlalu cepat hantam pertumbuhan.

Kekhawatiran Pasar Global atas Utang Jepang

Pasar global gentar karena Jepang pegang 8,6 persen aset finansial dunia—USD 12 triliun. Utang raksasa bikin yield spike bisa picu panic sell obligasi, sebabkan likuiditas krisis seperti 1997 Asia. OECD peringatkan: tarif AS dan fragmentasi geoeconomi tekan ekspor Jepang, yang 20 persen ke AS. M&A naik USD 230 miliar 2024, tapi 2025 rentan ketidakpastian—KKR bid Fuji Soft tunjuk agresivitas, tapi risiko geopolitik naik. IMF sebut risiko downside: perlambatan global dan volatilitas energi tekan GDP Jepang. Investor asing, yang pegang 10 persen JGB, was-was: jika Takaichi gagal stabilkan, efek domino ke euro dan dolar bisa guncang bursa. Analis bilang, “Jepang bukan lagi safe haven—ia bom waktu.”

Kesimpulan

Ekspansi PM Sanae Takaichi bikin pasar global gentar karena utang 250 persen GDP dan yen lemah ancam stabilitas dunia. Dari stimulus fiskal hingga kekhawatiran carry trade, Jepang di persimpangan: dorong pertumbuhan atau picu krisis? IMF proyeksi 1,1 persen GDP 2025 positif, tapi risiko downside dari tarif AS dan inflasi impor nyata. Takaichi janji reformasi, tapi pasar butuh bukti—jangan ulang Abenomics gagal. Jepang, raksasa ekonomi Asia, tak boleh jatuh; jika runtuh, dunia ikut goyang. Saatnya langkah hati-hati, supaya ekspansi jadi kekuatan, bukan ancaman.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *