Israel Serang Gaza, 32 Tewas Meski Gabung Dewan Perdamaian. Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Gaza pada malam 1 Februari 2026, menewaskan setidaknya 32 warga Palestina dan melukai lebih dari 80 orang lainnya. Serangan ini menargetkan beberapa lokasi di Gaza Utara dan Khan Younis yang diklaim sebagai basis milisi Hamas. Namun, kejadian ini menjadi kontroversial karena terjadi hanya dua hari setelah Israel resmi bergabung dengan Dewan Perdamaian Internasional (DPI) yang dibentuk PBB pada akhir Januari sebagai upaya de-eskalasi konflik di Timur Tengah. Militer Israel menyatakan serangan sebagai respons terhadap roket Hamas, sementara Otoritas Palestina mengecamnya sebagai “pelanggaran perdamaian yang disengaja”. Insiden ini langsung memicu kecaman internasional dan meningkatkan ketegangan di kawasan yang sudah rapuh. INFO CASINO
Serangan dan Korban yang Tewas: Israel Serang Gaza, 32 Tewas Meski Gabung Dewan Perdamaian
Serangan dimulai sekitar pukul 22.30 waktu Gaza dengan gelombang pertama drone dan pesawat F-35 yang menyasar gudang senjata dan terowongan di Gaza Utara. Dalam waktu kurang dari satu jam, serangan kedua menghantam rumah-rumah di Khan Younis yang diklaim sebagai markas komando Hamas. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 32 korban tewas termasuk 12 anak-anak dan 8 perempuan, serta 84 orang luka-luka dengan sebagian besar mengalami luka bakar dan patah tulang akibat runtuhan bangunan.
Militer Israel melalui juru bicara IDF menyatakan bahwa target adalah “aset militer Hamas” dan bahwa serangan dilakukan dengan presisi tinggi untuk meminimalkan korban sipil. Namun, laporan saksi mata menyebutkan bahwa beberapa rumah sipil ikut hancur karena lokasi sasaran berdekatan dengan permukiman padat. Tidak ada laporan korban dari pihak Israel, meski roket peringatan dari Gaza sempat ditembakkan sebagai respons.
Keterlibatan Dewan Perdamaian dan Respons Internasional: Israel Serang Gaza, 32 Tewas Meski Gabung Dewan Perdamaian
Israel baru saja bergabung dengan Dewan Perdamaian Internasional (DPI) pada 30 Januari, sebuah badan baru PBB yang dibentuk untuk memediasi konflik di Timur Tengah dengan anggota dari AS, Rusia, China, Prancis, dan negara-negara Arab. DPI bertugas memantau gencatan senjata dan memfasilitasi dialog, tapi serangan ini langsung menimbulkan pertanyaan tentang komitmen Israel. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan “kekecewaan mendalam” dan mendesak Israel menahan diri agar tidak merusak proses perdamaian yang baru dimulai.
Amerika Serikat sebagai sekutu Israel menyatakan “memahami hak bela diri Israel” tapi menekankan agar operasi militer tidak menghambat dialog DPI. Rusia dan China mengecam serangan sebagai “agresi yang tidak bisa diterima” dan menuntut pertanggungjawaban Israel di DK PBB. Otoritas Palestina melalui juru bicara menyatakan bahwa serangan ini “membuktikan Israel tidak pernah sungguh-sungguh ingin perdamaian”.
Dampak Kemanusiaan dan Situasi di Gaza
Dengan serangan ini, korban tewas di Gaza sejak awal 2026 mencapai lebih dari 120 orang, mayoritas sipil. Rumah sakit di Gaza Utara seperti Al-Awda dan Kamal Adwan kewalahan menangani korban karena stok obat dan listrik yang terbatas. Banjir bandang akibat hujan lebat di Gaza Utara juga memperburuk situasi, dengan ribuan warga mengungsi ke sekolah dan masjid. Bantuan kemanusiaan dari Mesir melalui Rafah sempat tertunda karena ketegangan di perbatasan, tapi akhirnya masuk pagi ini dengan 12 truk makanan dan obat-obatan.
Warga Gaza yang diwawancarai menyatakan ketakutan akan serangan lanjutan, sementara aktivis hak asasi manusia menyerukan investigasi independen atas korban sipil. Di Israel, dukungan publik terhadap operasi militer tetap tinggi, tapi beberapa kelompok oposisi mengecamnya sebagai “provokasi yang tidak perlu”.
Kesimpulan
Serangan Israel ke Gaza yang menewaskan 32 orang pada 1 Februari 2026 menjadi pukulan bagi upaya perdamaian baru melalui Dewan Perdamaian Internasional. Di satu sisi, Israel menegaskan hak bela dirinya terhadap ancaman Hamas; di sisi lain, korban sipil yang terus bertambah membuat proses dialog semakin sulit. Respons internasional yang terbelah menunjukkan betapa rapuhnya situasi di Timur Tengah. Semoga DPI bisa segera bekerja efektif dan menghentikan siklus kekerasan ini. Yang pasti, Gaza butuh lebih dari sekadar pernyataan—ia butuh aksi nyata untuk perdamaian dan rekonstruksi. Dunia ikut menunggu langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.