Presiden Venezuela Menuntut AS Stop Intervensi Ilegal

presiden-venezuela-menuntut-as-stop-intervensi-ilegal

Presiden Venezuela Menuntut AS Stop Intervensi Ilegal. Presiden Venezuela Nicolás Maduro kembali menyerang keras kebijakan Amerika Serikat (AS), menuntut Washington hentikan “intervensi ilegal” yang katanya ancam kedaulatan negaranya. Pernyataan tegas ini disampaikan Maduro pada Rabu, 10 Desember 2025, di hadapan ribuan pendukung di Caracas, saat ia memperingati ulang tahun ke-166 Pertempuran Santa Inés—simbol perlawanan kolonial. “Dari Venezuela, kami tuntut akhir intervensi brutal dan ilegal AS di negeri kami dan seluruh Amerika Latin,” katanya, sambil angkat tangan ke langit. Tuntutan ini lahir di tengah eskalasi ketegangan: AS di bawah Donald Trump akumulasi kapal perang di Karibia sebagai “kampanye anti-kartel narkoba,” yang Maduro tuduh sebagai kedok regime change. Sejak Juli 2025, Trump beri ultimatum Maduro mundur, tapi pemimpin Sosialis itu tolak dan balik tuntut “amnesti global” untuk dirinya dan sekutunya. Situasi ini ancam stabilitas kawasan, dengan ribuan warga Venezuela lari ke perbatasan. BERITA BOLA

Ultimatum Trump dan Respons Maduro: Presiden Venezuela Menuntut AS Stop Intervensi Ilegal

Semua bermula dari panggilan telepon rahasia Trump-Maduro akhir November 2025. Menurut sumber dekat, Trump beri ultimatum: “Kamu bisa selamatkan diri dan orang terdekat, tapi tinggalkan negara sekarang.” Tawaran itu termasuk jaminan selamat untuk Maduro, istrinya, dan putranya, asal ia mundur segera. Maduro tolak, balik tuntut imunitas dunia dari tuntutan hukum AS dan tetap pegang kendali militer meski serahkan kekuasaan politik ke oposisi. “Saya tolak damai budak,” katanya di pidato Rabu, sambil ingatkan sejarah intervensi AS di Amerika Latin. Trump, yang anggap Maduro pimpin “narco-terrorist enterprise,” tambah tekanan: bounty US$50 juta untuk Maduro dan US$25 juta untuk Diosdado Cabello. Maduro balas: “AS ingin ganti rezim lewat militer, tapi rakyat Venezuela siap perlawanan.”

Eskalasi Militer di Karibia: Presiden Venezuela Menuntut AS Stop Intervensi Ilegal

Kebijakan Trump sejak Januari 2025 perketat imigrasi dan perang narkoba, desak kartel seperti Sinaloa dan Tren de Aragua sebagai “teroris asing.” Akumulasi angkatan laut AS di Karibia—termasuk kapal induk dan 20 serangan kapal kecepatan narkoba—jadi puncaknya. Maduro sebut ini “ancaman militer langsung,” meski AS klaim cuma anti-narkoba. Pada 1 September 2025, Maduro umumkan “mobilisasi massal” militer Venezuela, tambah pasukan dan senjata di perbatasan. Ia perketat keamanan pribadi: ganti tempat tidur rutin, tambah bodyguard Kuba, dan pasang intelijen Kuba di militer. Ribuan pendukung gelar rally di Caracas Senin lalu, kibarin bendera Venezuela sambil nyanyi lagu perlawanan. Maduro tolak “damai budak,” tuntut kesetaraan dan kedaulatan—pesan yang ia ulang di pidato Rabu.

Dampak Ekonomi dan Politik di Venezuela

Tuntutan Maduro datang di tengah krisis domestik. Ekonomi Venezuela ambruk: hiperinflasi, sanksi AS, dan kekalahan kontroversial pemilu Juli 2025 lawan Edmundo González. Maduro klaim menang, tapi oposisi bilang curang—picu protes massal yang ditekan militer. AS tuntut Maduro mundur untuk pulihkan demokrasi, tawarkan akses minyak dan emas ke perusahaan AS jika putus hubungan dengan Cina, Iran, Rusia. Maduro tolak, sebut itu “harga damai budak.” Dampaknya: migrasi melonjak, 7 juta warga lari sejak 2015, dan kartel Tren de Aragua kuasai perbatasan. Rally Rabu tunjukkan dukungan kuat: ribuan hadir, tapi oposisi sebut itu propaganda. Wall Street Journal sarankan Trump terus tekanan, bilang gulingkan Maduro “untuk kepentingan nasional AS.”

Respons Internasional dan Prospek Diplomasi

AS, lewat juru bicara Gedung Putih, sebut tuntutan Maduro “omong kosong rezim gagal.” Trump ancam serangan darat ke wilayah Venezuela jika Maduro tak mundur, tapi pakar skeptis: “AS tak rencana invasi penuh.” Cuba, sekutu Maduro, tambah dukungan intelijen, sementara Cina dan Rusia kritik intervensi AS. ASEAN pantau, khawatir eskalasi regional. Oposisi Venezuela koordinasi dengan Trump untuk “100 jam pertama pasca-Maduro,” rencana transisi. Maduro tuntut akhir intervensi di Amerika Latin, ingatkan sejarah seperti Panama 1989. Prospek: Trump mungkin tambah sanksi, tapi Maduro bertahan—ia bilang “siap tunggu Trump lelah.” Rally Caracas jadi sinyal: rakyatnya dukung, tapi krisis ekonomi bisa guncang.

Kesimpulan

Tuntutan Maduro agar AS hentikan intervensi ilegal jadi babak baru ketegangan Trump-Maduro yang panas. Dari ultimatum telepon hingga rally Caracas, ini campur ancaman militer dan tuntut kedaulatan. Dampaknya luas: ekonomi Venezuela goyah, migrasi melonjak, dan kawasan tegang. Diplomasi mungkin jadi jalan, tapi sejarah tunjukkan sulit—semoga tak eskalasi jadi konflik bersenjata. Venezuela butuh damai, bukan tekanan; AS, introspeksi soal “intervensi.” Yang pasti, rakyat Caracas pantas dapat masa depan cerah, bukan bayang perang.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *